Posts

Satu Tahun Perpisahan

Ada ribuan kata terpusat pada titikmu. Pada titik tertentu semua terkoyak.  pada titik tertentu semua hilang kendali. Dan pada titik tertentu 'hati' goyah.     Ada apa ? sampai rasa itu selalu ada. Ada apa ? logika itu bisa bohong. Ada apa ? sampai hari ini pun bersisa. satu tahun ?? Lama sekali, tapi kenapa rasanya seperti kemarin ? atau jangan-jangan ini adalah tidak kekuasaan hati yang mengalami perih. Jadi, seolah baru kemarin padahal sudah satu tahun terjadi. Tepat, pada saat ini aku menangis. Tepat, pada saat ini kata itu terucap. 'kita berpisah ya ?!'    -  12.30am -

Membiru (lagi)

hari yang memilukan kembali hadir  harapan yang besar tak terlaksana.  tuhan, haruskah ini kembali datang ? penat, rehat pun sangat ingin. entah seperti apa dan bagaimana akhirnya. rasa ingin terlelap pun tertahan  sebab ramainya kepala yang membelenggu. kalau saja pilihan itu tidak ada rasa tenang pun akan hadir.  memang sesal tak bisa dipungkiri ah sial, diri ini kalah.  perasaan kalah itu menyakitkan. mencabik-cabik keadaan. bagaimana bisa, diri yang dianggap selalu menang, bisa kalah ? begitulah rencana tuhan. 

Rentang Waktu

waktu terasa sangat cepat, tak terasa 2 minggu telah berlalu. rentang waktu yang sangat singkat membuat keputusan yang begitu cepat memang, rasa itu tidak mudah untuk dikendalikan.  sebuah keyakinan yang masih terombang ambing, membuat cerita yang entah akan seperti apa nantinya. hanya tuhan yang tahu bagaimana selanjutnya, berdoa akan menjadi rutinitas disetiap waktunya. dilain sisi, rasa sepi terus menghantui. apa ini hanya sementara ?  tidak. ku harap tidak begitu. ku ingin dia. ya, dia selalu.   rentang waktu yang singkat, bisakah itu terjadi ? ku sangat berharap ini akan selamanya.   -23/05 18:42-

Sunyi

Sunyi ketika malam telah tiba, sunyi ketika satu persatu telah pergi.  Seperti itu keadaan bilik beberapa waktu terakhir. Hampa tapi tak usang.  Dingin yang menyelimuti malam, menghanyutkan pikiran ke alam angan-angan.  Berandai mengenai hal yang paling membahagiakan misalnya, disudut rumah.  Sembari menatap langit, dan sesekali beruntung ditemani bintang kecil yang berkelip-kelip.  Rasanya sunyi makin menjadi-jadi ketika suara cicak tiba-tiba bergeming.  Entah apa yang difikirkan, malam-malam memang waktu yang sangat tepat untuk hal itu.  Tanpa dawai dan televisi, suasana semakin mendukung.   Terbayang betapa sunyinya bilik itu ?  Rasa ingin terpejam sampai hari esok, namun mata masih enggan untuk terlelap.  Hanya ada sebuah kertas dan pena yang ingin sekali di sentuh,  sembari menemani dalam berandai-andai.  Dan menuliskan sebuah harapan kecil pada sang pencipta.  Untuk memberikan kesembuhan pada semesta ini.  ...

Wanita Itu...

Seorang wanita yang mencintaimu Wanita itu mencintaimu sepenuh hati Dia mengikutimu sepanjang hari seperti bayangan Wanita itu tertawa dan menangis Seberapa banyak, berapa banyak lagi Yang harus aku lakukan untuk menatapmu seorang Cinta ini datang seperti angin, mengemis cinta ini Jika aku terus seperti ini, akankah kau mencintaiku ? Datanglah sedikit lebih dekat, sedikit lagi Saat aku ambil satu langkah lebih dekat denganmu, lalu kau ambil dua langkah mundur Aku yang mencintaimu ada disampingmu sekarang Wanita itu menangis Wanita itu pemalu Jadi dia belajar bagaimana untuk tertawa Wanita itu punya banyak cerita yang bahkan tak bisa ia beritahukan pada sahabatnya Jadi hatinya penuh dengan air mata Itu sebabnya, wanita itu Dia mencintaimu, karena kau sama seperti dia Kebodohan lain lagi terjadi Tak bisakah kau memelukku, sebelum kau pergi ? Aku ingin menerima cinta, sayang Setiap hari dalam hatiku Aku berteriak dan bahkan hari ...

Feeling

A promise i break will not. For love i do is worth. A chemistry we can solve. A man drowned in my thoughts. A dream i can see and do but yet can not have. An ocean without fish. A land without dire. Me without you. You without me. An island a world can not see. An eye made for you but blinded. A prayer being ask, for you to answer. A mirror for self reflection and for that i’m sure. A feeling made for you.